Sabtu, 30 April 2011

MEMBANGUN PAPUA BARAT DENGAN NURANI DAN KEDAMAIAN




SEBAGAI salah satu daerah yang baru terbentuk, Provinsi Papua Barat tak ingin ketinggalan di bidang pembangunan dari daerah-daerah provinsi lainnya, apalagi Provinsi Papua Barat memiliki sumberdaya yang sangat potensial dan variatif jenisnya. Namun untuk ‘menyulap’ Papua Barat menjadi daerah yang diperhitungkan di masa mendatang, tak semudah membalikkan telapak tangan.
Dibutuhkan figur yang kuat dalam memimpin Negeri Masa Depan ini, yang memiliki ide dan gagasan cemerlang, serta konsistensi dalam pelaksanaannya di lapangan. Juga yang tak bisa diabaikan adalah partisipasi aktif dan peran serta dari masyarakatnya. Karena itu, DR. Wahidin Puarada, M.Si mengajak masyarakat di Papua Barat untuk bersama-sama membangun daerahnya dalam bingkai yang di dalamnya terdapat kebersamaan, kejujuran, keadilan, dan kesederhanaan sehingga pada akhirnya hasil yang diperoleh memberikan rasa senang kepada semua masyarakat di Papua Barat. SENANG MERASAKAN PERUBAHAN, SENANG MENIKMATI HASIL PEMBANGUNAN DAN SENANG BERSAMA-SAMA MASYARAKAT DAN PEMERINTAHNYA. 


Sebagai seorang pemimpin selama menjadi Bupati di Kabupaten Fakfak, DR. Wahidin Puarada, M.Si telah memiliki visi membawa Kabupaten Fakfak keluar dari Ketertinggalan ke arah kemajuan. Dan setelah diberi amanah memimpin daerah Kabupaten Fakfak, ia masih menyimpan energy untuk terus berkiprah dan bertekad mewujudkan obsesinya menjadikan Papua Barat sebagai daerah yang cemerlang di masa yang akan datang. ‘’Saya ingin jadikan Papua Barat sebagai suatu daerah yang maju di Tanah Papua mirip dengan Provinsi lain di Tanah Papua tanpa suatu perbedaan suku, Agama, dan Ras serta selalu mengedepankan pendekatan nurani dan kedamaian. 
Obsesi DR. Wahidin Puarada, M.Si untuk memimpin Papua Barat dengan Visi yang besar yakni membangun Papua Barat dengan Nurani dan kedamaian merupakan hal yang prinsip telah dipikirkan matang-matang. Nurani merupakan suatu perasaan dengan selalu konsiten kepada kebenaran dan kejujuran. Dalam Dokumen Konsili Vatikan II, GS 16 mencatat, hati nurani merupakan petunjuk dan keputusan akhir dalam interaksinya dengan akal budi manusia dalam berhadapan dengan dirinya, orang lain, dan Tuhannya. Di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya. Dalam Perjanjian Baru, Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol 3:23) Di samping taat kepada hukum Allah, manusia juga perlu harmonisasi dalam hati nurani.
Etika Kebuddhaan adalah etika nurani. Melaksanakan Etika Kebuddhaan artinya membangun kebiasaan untuk berhati nurani. Pemujaan Sang Hyang Atma sebagai Batara Hyang Guru dalam agama Hindu adalah pemujaan Guru yang ada dalam diri. Suara Sang Hyang Atma itu tiada lain adalah suara hati nurani. Orang yang gelap hati nuraninya cenderung berbuat yang makin menutup sinar suci Tuhan.
Di dalam kitab Su Si agama Kong Hu Cu mengatakan, berbuat sesuai dengan Hati Nurani itulah Tao, sedangkan bimbingan untuk hidup menempuh jalan sesuai hati nurani itulah agama. Manusia yang tidak mengenal hati nuraninya maka ia tidak mengenal Tuhan. Secara sederhana, nurani adalah pusat kebenaran sejati. Pada akhirnya, hati nurani adalah solusi dari merosotnya akhlak dan moral bangsa Indonesia. Hati nurani sangat penting untuk mengedepankan kembali kejujuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang saat ini sedang bermasalah. Begitupun Di dalam istilah Islam di sebut dengan bashirah untuk menyebut hati nurani, yang berarti pandangan mata batin. Sesungguhnya, di dalam hal yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki mata hati (bashirah). (QS. Ali Imran: 13),



Setiap langkah dalam membangun selalu didasarkan pada nilai etika dan moralitas,  mengutamakan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk keunggulan daerah, tanpa harus bergantung pada pihak lain, mengedepankan Kebersamaan yang selalu menjalin keharmonisan dari keberagaman etnis, suku, agama, bahasa, dan adat istiadat, selalu peka dan tanggap terhadap aspirasi masyarakat, tuntutan, kondisi, dan harapan rakyat serta konsisten dalam memperjuangkannya kesejahtreraan masyarakat, dan selalu mengedepankan sikap dan perilaku yang bersahaja.
Membangun dengan nurani tentunya Kesejahteraan yang idam-idamkan masyarakat akan tercapai walaupun kadang sebuah kata yang sudah sangat sering diucapkan tetapi sangat sulit diwujudkan. Namun demikian niat baik DR. Wahidin Puarada, M.Si  bertekad dan siap memimpin warga Masyarakat Papua Barat dengan selalu mendengarkan suara hati nurani dan membaca  suara hati rakyat di Papua Barat.
Figur berjiwa kepemimpinan, sosok berpengalaman matang dan berwawasan luas, selalu mengatakan siap menjadi pemimpin Provinsi Papua Barat yang memiliki kepekaan hati nurani, baik terhadap diri sendiri maupun nurani rakyat. Dengan Berbekal pengalaman sebagai bupati dan segudang prestasi yang telah diraihnya, ia berkomitmen kuat akan mewujudkan konsep membangun Provinsi Papua Barat dengan benar dan selaras. Saya sepenuhnya menjamin segenap masyarakat Jambi tidak akan kecewa jika memilih kami. Modal kepekaan terhadap hati nurani membuat kami berdua sanggup menjadi pemimpin panutan rakyat. Ia selalu berprinsip tidak ingin sekadar maju, tetapi siap memenangi pilkada Provinsi Papua Barat. Tentunya, kemenangan itu harus diraih dengan cara-cara selaras dengan nilai moral dan agama, etika kebenaran, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Ia berjanji selalu bersama mengerahkan tenaga dan pikiran membangun Provinsi Papua Barat kedepan ke arah lebih baik. Untuk itu perlu kerja cepat mengejar sejumlah ketertinggalan pembangunan di Provinsi Papua Barat tentunya, modal membangun Papua Barat adalah pemimpin yang mampu dan berpengalaman, mengutamakan partisipasi aktif rakyat, serta punya sumber daya alam yang potensial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar